Tuesday, August 23, 2016

Wilayah lautan mempunyai kekayaan dan keanekaragaman hayati terbesar didunia. Lautan banyak memberikan kontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan terutama mengenai organisme laut. Ekosistem lautan merupakan sistem lingkungan akuatik terbesar di planet bumi (Nyabakken, 1988 dalam Aullia dkk, 2012).
Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut karena menjadi sumber kehidupan bagi beranekaragam biota laut. Ekosistem terumbu karang terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih. Perairan tersebut merupakan perairan yang paling produktif diperairan laut tropis, serta memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Dahuri, 1999).
Kerusakan ekosistem terumbu karang dapat mengakibatkan terganggunya seluruh kehidupan di laut dan pantai yang ada di wilayah tersebut. Pencemaran oleh berbagai macam limbah di pantai dapat mengganggu kelangsungan hidup terumbu karang yang membutuhkan perairan yang bersih. Faktor lain yang dapat mengancam kelestarian terumbu karang diantaranya penangkapan ikan dengan menggunakan peledak dan bahan kimia beracun, aktivitas penambangan yang berlebihan sebagai bahan bangunan dan sebagai hiasan, selain itu peningkatan suhu bumi juga merupakan ancaman yang cukup berbahaya bagi terumbu karang. Belakangan ini diperkirakan hampir 25% dari kehidupan ekosistem terumbu karang telah mati dan diakibatkan dari peningkatan suhu bumi yang mencapai 4°C. Kerusakan terumbu karang dapat disebabkan dari bahan peledak, cyanide, pencemaran dari daratan terutama akibat sedimentasi serta kontaminasi minyak dari kapal dan oil mining di laut (Soedharma, 2005). Penyebab penurunan karang juga diperkirakan berasal dari faktor antropogenik, seperti penangkapan ikan yang berlebihan, polusi, dan sedimentasi. Angin topan dan badai tropis juga merupakan faktor penentu yang mengakibatkan gangguan alam yang paling jelas dan sangat mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem terumbu karang. Kerusakan karang yang banyak terjadi secara umum adalah penyakit karang sepeti pemutihan karang (coral bleaching) di beberapa tempat seperti Florida yang menunjukkan terjadinya  penurunan tingkat penutupan karng hingga mencapai 38% (Williams et al, 1990). Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh Crabbe (2012) yang mengaatakan bahwa terumbu karang di seluruh dunia sedang mengalami tantangan berat dari berbagai faktor antropogenik dan lingkungan termasuk overfishing, praktek penangkapan ikan yang dapat merusak, coral bleaching, pengasaman laut, kenaikan permukaan laut, algal blooms, agricultural run-off, pembangunan pesisir dan resor, polusi laut, peningkatan penyakit karang, spesies invasif, dan badai / kerusakan siklon.



Gambar 1. Coral Bleacing


Gambar 2. Degradasi Lingkungan
Akibat dari aktivitas yang sudah disebutkan diatas terumbu karang yang terdapat di Indonesia hanya tersisa 30% dalam kondisi baik, 37% dalam kondisi sedang, dan 33% rusak parah. Pemantauan kondisi terumbu karang dapat menggunakan beberapa metode pendeteksi dini. Metode yang paling sering digunakan adalah metode LIT (Line Intercept Transect), yaitu metode yang digunakan untuk menentukan penutupan komunitas bentos yang hidup bersama karang serta penutupan karang itu sendiri (Aulila et al., 2012). Namun, metode LIT bukan merupakan metode satu-satunya yang dapat digunakan dalam memantau kondisi lingungan terumbu karang, terdapat pula Reef check dan metode yang dapat menggunakan bioindikator (Aulia et al., 2012).
Metode sederhana yang dapat digunakan untuk memantau kondisi terumbu karang adalah penghitungan indeks keanekaragaman biota yang berasosiasi dengan terumbu karang termasuk foraminifera bentik  (Natsir dan Subkhan, 2010). Foraminifera dapat dikatakan sebagai bioindikator karena sudah banyak digunakan sebagai bioindikator lingkungan perairan dan lingkungan paleo. Lingkungan paleo meupakan lingkungan pengendapan karena adanya proses sedimentasi dan dapat dikorelasikan dengan umur batuan (Rifai, 2004). Foraminifera memerlukan kesamaan kualitas air dengan berbagai biota pembentuk terumbu karag dan siklus hidupnya cukup singkat sehingga dapat menggambarkan perubahan lingkungan yang terjadi dalam aktu cepat (Hallock et al., 2003).
Kerusakan terumbu karang tidak hanya mengancam organisme dan ikan yang hidup disekitarnya, tetapi juga mengancam kehidupan manusia karena manusia membutuhkan sumber pangan dari ikan yang salah satu ekosistemnya adalah terumbu karang. Kondisi terumbu karang di Indonesia umumnya mengalami kerusakan yang cukup parah. Hal  ini berakibat buruk bagi ekosistem terumbu karang di Indonesia bila dibiarkan tanpa solusi. Untuk itu perlu langkah penyelamatan dan usaha mencarikan solusi lain agar sumberdaya ikan yang menggantungkan aktifitasnya di ekosistem terumbu karang. Upaya dan solusi yang di lakukan dalam mencegah kerusakan ekosistem terumbu karang diantaranya:
a. Peningkatan Pengetahuan dan Penyadaran Masyarakat
            Penangkapan ikan secara destruktif disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat sekitar akan pentingnya kelestarian terumbu karang. Karena itu, semua pihak baik berkepentingan maupun ataupun tidak memang harus mengetahui dan memahami ekosistem pesisir dan laut, termasuk ekosistem terumbu karang, dengan memberikan pengetahuan dan penyuluhan dalam upaya penyadaran masyarakat sekitar akan manfaat dan tujuan dari terumbu karang tersebut.

b. Pengawasasan dan penertiban kawasan koservasi terumbu karang
Untuk mencegah terjadinya kerusakan yang berkelanjutan pemerintah dan masyarakat harus melakukan pengawasan dan penertiban secara penuh. Contoh melakukan pengawasan terhadap kawasan terumbuh karang secara rutin dan penertiban terhadap kapal-kapal pesiar maupun nelayan untuk tidak membuang jangkar sembarangan di kawasan konservasi terumbu karang (Kholis, 2013).
c. Membuat apartemen ikan

Apartemen ikan  (Rumah Ikan) adalah suatu bangunan  berongga  yang  tersusun dari konstruk partisi plastik, shelter, dan pemberat yang ditempatkan di dasar perairan berfungsi sebagai tempat berpijah bagi ikan-ikan dewasa (spawning ground)  dan atau areal perlindungan,  asuhan dan pembesaran bagi telur, larva  serta anak-anak ikan  (nursery ground) yang bertujuan untuk memulihkan ketersedian (stok) sumberdaya ikan. Pengembangan rumah ikan merupakan bentuk kegiatan pengayaan stok  yang ditujukan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya ikan melalui introduksi buatan sebagai area khusus, yang diharapkan mempengaruhi atau menggantikan sebagaian peran/fungsi ekologis habitat alami sumberdaya ikan seperti Terumbu Karang, Mangrove dan Padang Lamun (Bambang, dkk, 2011).
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Hak Cipta Dilindungi. Powered by Blogger.

Translate

Total Pageviews

Popular Posts

Recent Post

Recent Posts Widget

Web Hosting Unlimited, Daftar Sekarang!

Hosting Unlimited Indonesia