Sunday, November 13, 2011

Hal penting yang harus diperhatikan ketika hendak berpidato adalah menyiapkan kerangka naskah yang akan disampaikan kepada objek supaya lebih siap. Maka, sangat penting untuk memperhatikan siapa yang menjadi objek pidato, apakah objeknya siswa atau orang tua. Berikut ini adalah contoh naskah pidato dalam Bahasa Indonesia: 



Generasi Muda Berakhlak Mulia
Dengan Menjadi Insan yang Kreatif, Inofatif, Prestatif dan Solehah

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Ibu Guru yang saya hormati,
Rekan-rekan se-perjuangan yang saya cintai,
            Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT, yang mana pada saat ini kita masih masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup dan memperbaiki hidup, sehingga atas rahmat-Nya kita bisa berkumpul bersama di Sekolah kita yang tercinta ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjunan alam yaitu Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in dan tabi’atnya dan semoga sampai kepada kita selaku umatnya. Amin.
Tak lupa saya ucapkan terimakasih, kepada Ibu Guru dan rekan-rekan yang telah mengijinkan saya berbicara di depan, meskipun sesungguhnya saya sadar, saya bukanlah pembicara terbaik di muka bumi ini, maka dari itu saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyampaian pidato ini. Baiklah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk menyampaikan sekedar gagasan. Yang akan saya sampaikan pada pidato kali ini yaitu tentang
Generasi Muda Berakhlak Mulia
Dengan Menjadi Insan yang Kreatif, Inofatif, Prestatif dan Solehah”
Pada hakikatnya, kita sebagai generasi muda dituntut untuk kreatif, Inovatif, Prestatif dan Soleh. Karena banyak hal yang harus kita hadapi, yang harus kita jalani di bumi ini, tentunya kita tidak akan bisa selalu menggantungkan diri kepada siapapun.
Kreativitas
Apakah kreatif itu? Menurut situs kamus besar bahasa Indonesia bahwa kreatif adalah memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Ada juga yang mengatakan bahwa kreativitas adalah dinamika yang membawa perubahan yang berarti, entah dalam dunia kebendaan, dunia ide, dunia seni, atau struktur sosial. Dikatakan juga bahwa kreativitas merupakan kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinil, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran, dan tepat guna. 

Kreatifitas sangat dituntut sekali, karena tanpa kreatifitas hidup ini akan terasa bosan, yang kita hadapi setiap harinya hanya itu-itu saja. Oleh karena itu kita harus kreatif dalam melakukan hal apapun.



Inovatif
Sedangkan inovatif  adalah yang bersifat memperkenalkan sesuatu yg baru; atau bersifat pembaruan (kreasi baru), dalam kata lain penemuan atau penciptaan alat atau proses baru, baik dalam konteks teknik atau dalam konteks cara berfikir.
Teman-teman tentunya menginginkan sosok jiwa yang kreatif, inovatif dan prestatif. Lantas, bagaimana menjadi generasi prestatif? Menurut Ust. Irsyad Azizi, Lc. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan jika ingin menjadi generasi prestatif. Pertama, motivasi dan orientasi yang suci. Ya, semua yang kita lakukan harus  mengarah ke satu tujuan yaitu ridho Allah Swt. tidak ada niat lain atau mencari muka di depan manusia. Kita harus terus bekerja walau tidak ada yang memuji pekerjaan-pekerjaan besar yang kita lakukan. Kedua, kerja keras. tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan yang berat. Semuanya harus dibayar dengan harga mahal, yaitu pengorbanan. Prestasi tinggi lahir dari perjuangan yang tak mengenal putus asa, Mustahil menginginkan sesuatu tanpa usaha yang maksimal.
Rasulullah dan para sahabat adalah teladan dalam hidup kita, mereka adalah sejarah tentang keuletan tiada tara, dengan itu mereka mengembarn risalah dan mencapai puncak kesuksesan. Entah berapa liter darah yang mereka persembahkan dalam perjuangan. entah berapa liter keringat yang mereka peras di medan juang. Kancah perjuangan bagi mereka nyaris tiada henti. Begitu juga denga para tabi'in, lihatlah Imam Syafi'i, pemilik kitab Riyadusholihin yang hanya berumur empat puluh lima tahun, namun mampu menebar karya yang menggunung. Apa kunci kesuksesanya? ternyata jawabannnya adalah kerja keras.
Imam Ibnu Jarir At Thabari, pemilik kitab tafsir yang mashur, selama empat puluh tahun ia bercengkrama dengan tinta dan buku. Setiap hari ia menulis sebanyak empat puluh lembar. Bila ditoatal, karya tulisnya mencapai angkay lima ratus delapan puluh lembar. Sungguh angka yang tidak pernah mampu dicatat oleh penulis manapun sepanjang sejarah dunia terkembang.
Dengar pula pengakuan Ibnul Jauzi misalnya: "Aku telah menulis dengan jari-jari tanganku ini sebanyak dua ribu jilid buku, sebanyak seratus ribu orang taubat melalui tanganku, dan sebanyak dua puluh ribu orang Yahudi dan Nashrani juga masuk Islam melalui tanganku."
Mari menghitung diri, aina nahnu min haulaa`? Baru berapa nilai kesungguhan kita bila dibandingkan dengan kerja mereka. Lalu sudah pantaskah kita berharap prestasi setinggi yang mereka torehkan, sementara santai masih menjadi hiasan hari-hari kita? 
Ketiga: Komunikasi langit. Generasi prestatif adalah mereka yang tidak hanya mengandalkan kerja keras belaka,tapi ada faktor x di balik semua itu. Doa tanpa usaha sama saja bohong tapi kalo usaha tanpa doa sama dengan sombong. Maka dua hal ini harus sejalan seiring.

Keempat adalah ruh tasabuq yaitu mental berkompetensi, generasi prestatif adalah mereka yang memahami ayat "fastabiqul khairat" berlomba-lombalah dalam kebaikan. Mereka demikian ambisius dalam berbuat kebaikan meski mengorbankan segala yang mereka miliki.
Jika harus jujur, sesungguhnya mental kompetisi positif inilah yang mulai luntur dalam generasi muda, Alih-alih menjadikan agama dan prestasi akademis sebagai objek kompetisi, mayoritas kita malah sibuk menumpuk keunggulan dalam aksesoris duniawi. Lebih parah lagi, tidak sedikit generasi muda yang bangga menumpu maksiat, naudzubillah. Butuh waktu memang untuk menciptakan kondisi lingkungan yang berkompetisi dalam kebaikan. Tapi semuanya akan tetap menjadi mimpi bila tidak dimulai dari sekarang, dari lingkungan terkecil sekalipun. Jadi, mulai sekarang pada hari ini dan detik ini marilah kita berfikir, marilah kita bersama-sama berjuang untuk menjadi insan yang kreatif, inovatif, prestatif dan solehah.
            Demikian pidato kali ini saya sampaikan, mudah-mudahan bisa bermanfaat khususnya bagi saya, umumnya untuk kita semua dan semoga kemudahan ada bersama kita untuk menjadi generasi muda yang kreatif, inovatif, prestatif dan solehah.
            Terimakasih atas perhatiannya, sekali lagi saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyampaian pidato ini. Assalamu’alaiku Wr.Wb.
Reactions:

1 comment:

Hak Cipta Dilindungi. Powered by Blogger.

Translate

Total Pageviews

Popular Posts

Recent Post

Recent Posts Widget

Web Hosting Unlimited, Daftar Sekarang!

Hosting Unlimited Indonesia